فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ
Dalam hati mereka ada penyakit, maka Allah menambah penyakit mereka, dan bagi mereka azab yang pedih karena mereka selalu berdusta.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًاfii quluubihim maradun fa-zaadahumu llaahu maradandalam hati mereka ada penyakit, maka Allah menambah penyakit mereka
- وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَwa-lahum adzaabun aliimun bi-maa kaanuu yakdzibuunadan bagi mereka azab yang pedih karena mereka selalu berdusta
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini menyebut kata "penyakit" dua kali, dan keduanya memakai bentuk yang berbeda. Yang pertama, "dalam hati mereka ada penyakit" (فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ, fii quluubihim maradun), menyatakan sesuatu yang sudah ada di sana. Yang kedua, "maka Allah menambah penyakit mereka" (فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا, fa-zaadahumu llaahu maradan), menyatakan tambahan atas apa yang sudah ada. Bukan penyakit baru yang berbeda jenisnya, melainkan penambahan atas yang sudah dibawa sendiri.
Kata kerja "menambah" di sini layak ditelusuri ke seluruh pemakaiannya. Bentuk yang sama persis muncul enam kali di Al-Qur'an, dan yang ditambahkan ternyata terbagi seimbang ke dua arah yang berlawanan. Tiga kali ke arah naik: menambah keimanan (3:173), menambah keimanan dan keberserahan (33:22), dan menambah petunjuk (47:17). Tiga kali ke arah turun: menambah penyakit di ayat ini, menambah sikap menjauh (25:60), dan menambah keberpalingan (35:42).
Yang lebih tajam lagi, bentuk yang persis sama dengan yang dipakai di ayat ini, lengkap dengan kata sambung di depannya, hanya muncul dua kali di seluruh Al-Qur'an: di sini untuk menambah penyakit, dan di 3:173 untuk menambah keimanan (فَزَادَهُمْ إِيمَانًا, fa-zaadahum iimaanan). Dua ayat dengan susunan yang identik, menghasilkan dua arah yang sepenuhnya berlawanan. Yang membedakan bukan cara kerjanya, melainkan apa yang sudah ada di dalam diri orang yang mengalaminya.
Bagian penutup ayat menyebutkan sebab dari azab yang dijanjikan, dan sebab itu bukan penyakit di hati mereka. Yang disebut adalah "karena mereka selalu berdusta" (بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ, bi-maa kaanuu yakdzibuuna). Bentuk kata kerjanya menandai sesuatu yang berlangsung terus sebagai kebiasaan, bukan satu kali kejadian. Rangkaian ini muncul dua kali di Al-Qur'an, di sini dan di 9:77.
Tafsiran
Pernyataan bahwa penyakit hati justru ditambah bisa terdengar seperti kekejaman, sampai kata kerjanya ditelusuri ke seluruh pemakaiannya. Kata yang sama persis dipakai untuk menambah keimanan, menambah keberserahan, dan menambah petunjuk. Enam kemunculan, terbagi rata: tiga ke atas, tiga ke bawah. Yang bekerja bukan dua hukum yang berbeda untuk dua golongan, melainkan satu hukum yang sama untuk semua.
Hukum itu sederhana dan justru karena itu menakutkan: apa pun yang sudah ada di dalam, itulah yang bertambah. Orang yang membawa keimanan akan menemukan keimanannya bertambah oleh peristiwa yang sama yang menambah keberpalingan orang lain. Ayat 3:173 menggambarkan hal itu dengan gamblang: ancaman yang sama, yang seharusnya menakutkan, justru menambah keyakinan mereka yang sudah yakin. Tidak ada peristiwa yang netral; setiap peristiwa memperbesar apa yang sudah ada.
Karena itu penyakit yang disebut di sini tidak digambarkan sebagai sesuatu yang ditimpakan dari luar. Ia sudah ada lebih dulu, disebutkan di awal kalimat sebelum penambahan disebutkan. Yang datang kemudian hanya melipatgandakan arah yang sudah dipilih. Ini menjelaskan mengapa peringatan bisa memperburuk sebagian orang dan memperbaiki sebagian lain, dengan isi yang sama persis.
Dan sebab azab yang disebutkan bukan penyakit hatinya, melainkan kebiasaan berdusta. Penyakit adalah keadaan; berdusta adalah perbuatan. Yang dituntut pertanggungjawaban adalah yang kedua. Keadaan hati yang sakit tidak dituntut dengan sendirinya; yang dituntut adalah apa yang dilakukan dengan keadaan itu, dan terutama dusta yang terus-menerus dipakai untuk menutupinya.
Implikasi (6)
- Kata kerja yang sama persis dipakai enam kali di Al-Qur'an: tiga kali untuk menambah keimanan, keberserahan, dan petunjuk; tiga kali untuk menambah penyakit, sikap menjauh, dan keberpalingan. Bukan dua hukum untuk dua golongan, melainkan satu hukum yang sama bekerja untuk semua. Yang menentukan arah penambahan bukan hukumnya, melainkan apa yang sudah dibawa masuk.
- Susunan kalimat yang identik dipakai di dua tempat untuk dua hasil yang berlawanan: di sini menambah penyakit, di tempat lain menambah keimanan. Peristiwa yang sama, ancaman yang sama, kabar yang sama, bisa menghasilkan dua akibat yang bertolak belakang pada dua orang yang berbeda. Tidak ada peristiwa yang benar-benar netral; setiap peristiwa memperbesar apa yang sudah ada di dalam.
- Penyakit itu disebut ada di dalam hati mereka sebelum penambahan disebutkan. Ia bukan sesuatu yang ditimpakan dari luar kepada hati yang semula bersih. Yang datang kemudian hanya melipatgandakan arah yang sudah dipilih lebih dulu. Ketakutan yang wajar dari gambaran ini bukan pada penambahannya, melainkan pada apa yang sudah terlanjur ada dan belum sempat diperiksa.
- Sebab azab yang disebutkan bukan penyakit di hati mereka, melainkan kebiasaan berdusta. Penyakit adalah keadaan; dusta adalah perbuatan. Keadaan hati yang sakit tidak dituntut dengan sendirinya, dan itu adalah kelegaan tersendiri bagi siapa pun yang mengenali ada yang tidak beres dalam diri sendiri. Yang dituntut adalah apa yang dilakukan dengan keadaan itu.
- Bentuk kata kerja yang dipakai menandai sesuatu yang berlangsung terus sebagai kebiasaan, bukan satu kali kejadian. Yang digambarkan bukan orang yang pernah berdusta, melainkan orang yang dustanya sudah menjadi cara berhubungan dengan kenyataan. Perbedaan antara keduanya bukan pada jumlah, melainkan pada apakah dusta itu masih terasa sebagai penyimpangan atau sudah menjadi jalan biasa.
- Kata yang dipakai bukan "mengubah" atau "menggantikan", melainkan "menambah". Tidak ada arah baru yang dipaksakan; yang ada hanyalah percepatan pada arah yang sudah ditempuh. Bagi yang berjalan menuju terang, ini adalah kabar baik. Bagi yang berjalan ke arah lain, ini adalah alasan untuk berhenti sejenak dan memeriksa ke mana kaki sedang melangkah, selagi langkah masih terasa ringan.