ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ

Itulah Kitab, tidak ada keraguan di dalamnya, petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa,

Terjemahan bertahap (3 jeda)
  1. ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَdzaalika l-kitaabu laa raybaitulah Kitab, tidak ada keraguan
  2. فِيهِfiihidi dalamnya
  3. هُدًى لِلْمُتَّقِينَhudan li-l-muttaqiinapetunjuk bagi orang-orang yang bertakwa
Penjelasan pilihan kata

Kata pembuka ayat ini, "itulah" (ذَٰلِكَ, dzaalika), adalah kata tunjuk untuk sesuatu yang jauh atau yang sudah disebut sebelumnya, bukan untuk sesuatu yang baru akan datang. Dalam bahasa Indonesia bedanya seperti "itu" dan "ini". Pilihan kata ini layak diperhatikan karena Al-Qur'an sebenarnya punya cara sendiri untuk menyebut diri dengan kata tunjuk dekat: bentuk "Al-Qur'an ini" (هَٰذَا الْقُرْآنَ, haadzaa l-qur'aana) muncul enam belas kali di berbagai surah. Sementara bentuk "itulah Kitab" (ذَٰلِكَ الْكِتَابُ, dzaalika l-kitaabu) hanya muncul satu kali saja di seluruh Al-Qur'an, yaitu di ayat ini. Ketika sebuah teks memiliki cara yang lazim untuk mengatakan sesuatu lalu memakai cara yang berbeda di satu tempat, perbedaan itu biasanya disengaja. Di sini, yang berdiri persis sebelumnya adalah tiga huruf pembuka di 2:1.

Kata "Kitab" (الْكِتَابُ, l-kitaabu) memakai kata sandang yang menandai sesuatu yang sudah dikenal, bukan sesuatu yang baru diperkenalkan. Bunyinya bukan "sebuah kitab" melainkan "Kitab itu", seolah pembaca sudah tahu Kitab mana yang dimaksud sebelum disebutkan.

Frasa "tidak ada keraguan padanya" (لَا رَيْبَ, laa rayba, dilanjutkan فِيهِ, fiihi) muncul tiga belas kali di seluruh Al-Qur'an. Yang menarik, sembilan dari tiga belas kemunculan itu bukan tentang Kitab, melainkan tentang Hari Kiamat, hari pengumpulan, atau janji Allah (3:9, 3:25, 4:87, 6:12, 18:21, 22:7, 40:59, 45:26, 45:32). Jadi ini adalah rumusan yang biasa dipakai untuk menegaskan kepastian hari perhitungan. Dipakainya rumusan yang sama untuk Kitab menempatkan keduanya pada tingkat kepastian yang sejajar.

Ada satu hal lagi yang khas pada ayat ini. Di antara "tidak ada keraguan" dan "di dalamnya", serta antara "di dalamnya" dan "petunjuk", terdapat dua tanda berhenti yang berpasangan. Tanda semacam ini hanya ada di enam ayat dalam seluruh Al-Qur'an, dan ayat ini salah satunya. Aturannya: pembaca boleh berhenti di salah satu tanda, tetapi tidak di keduanya. Akibatnya ada dua cara membaca yang sama-sama sah. Cara pertama: "Itulah Kitab, tidak ada keraguan; di dalamnya petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa." Cara kedua: "Itulah Kitab, tidak ada keraguan di dalamnya; petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa." Terjemahan di sini memakai koma di kedua tempat agar tidak memaksakan salah satunya.

Penutup ayat, "petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa" (هُدًى لِلْمُتَّقِينَ, hudan li-l-muttaqiina), juga hanya muncul sekali di seluruh Al-Qur'an. Bandingkan dengan rumusan yang lebih sering dipakai, "petunjuk bagi manusia" (هُدًى لِلنَّاسِ, hudan li-n-naasi), yang muncul tiga kali (2:185, 3:4, 6:91). Kata "bertakwa" berasal dari akar yang berarti menjaga atau melindungi diri, jadi menggambarkan sikap berhati-hati agar tidak terjerumus, bukan sekadar status keagamaan.

Tafsiran

Ada sesuatu yang tampak berputar dalam ayat ini. Kitab ini disebut petunjuk, tetapi petunjuk bagi orang yang bertakwa. Padahal bukankah petunjuk seharusnya diberikan kepada yang belum tahu jalannya? Kalau seseorang sudah bertakwa, untuk apa lagi ia membutuhkan petunjuk? Dan kalau petunjuk hanya berguna bagi yang sudah bertakwa, bagaimana orang bisa mulai bertakwa tanpa petunjuk itu lebih dulu?

Al-Qur'an sendiri tidak menutup kemungkinan lain. Di tempat lain ia menyebut diri "petunjuk bagi manusia" tanpa syarat apa pun. Jadi dua rumusan itu berdampingan dalam kitab yang sama: petunjuk bagi semua orang, dan petunjuk bagi mereka yang sudah menjaga diri. Yang membedakan bukan isinya, melainkan siapa yang benar-benar menerimanya. Sesuatu bisa saja tersedia bagi semua orang tanpa sampai kepada semua orang. Yang menentukan bukan ketersediaannya, melainkan kesediaan yang menerima.

Rumusan "tidak ada keraguan" yang dipakai di sini adalah rumusan yang di sembilan tempat lain dipakai untuk menyatakan kepastian hari perhitungan. Sesuatu yang belum terjadi dan tidak bisa dibuktikan hari ini, disebut dengan kata-kata yang sama seperti kitab yang sedang dipegang. Keduanya diletakkan pada tingkat kepastian yang sama, dan keduanya sama-sama menuntut sikap yang sama dari pembacanya.

Terakhir, kata tunjuk yang dipakai menunjuk ke belakang, bukan ke depan, dan yang berdiri persis di belakang hanyalah tiga huruf yang tak terjelaskan. Susunan dua ayat pertama surah ini menghasilkan urutan yang tak biasa: sesuatu yang tidak dipahami lebih dulu, baru kemudian pernyataan bahwa yang tak dipahami itu adalah Kitab yang tidak diragukan.

Implikasi (7)
  • Petunjuk ini diperuntukkan bagi orang yang bertakwa. Tetapi bagaimana seseorang bisa bertakwa sebelum menerima petunjuk? Lingkaran ini tidak diselesaikan oleh ayat ini, dan mungkin memang tidak dimaksudkan untuk diselesaikan. Barangkali ia menggambarkan sesuatu yang memang benar tentang bagaimana pemahaman bekerja: yang bersedia menerima akan menerima lebih banyak, dan yang menolak sejak awal tidak akan menemukan apa pun, betapapun terangnya yang disodorkan.
  • Di tempat lain Al-Qur'an menyebut diri petunjuk bagi seluruh manusia tanpa syarat, dan di sini petunjuk bagi yang bertakwa. Dua rumusan itu tidak bertentangan kalau dibedakan antara apa yang tersedia dan apa yang sampai. Matahari bersinar untuk semua, tetapi hanya menerangi mata yang terbuka. Yang menentukan bukan sumber cahaya, melainkan apakah mata dipejamkan.
  • Dua tanda berhenti berpasangan di ayat ini, yang hanya ada di enam ayat sepanjang Al-Qur'an, membuka dua cara membaca yang sama-sama benar. Bisa dibaca "tidak ada keraguan" sebagai pernyataan utuh, atau "tidak ada keraguan di dalamnya" sebagai satu kesatuan. Sebuah teks yang menyediakan dua bacaan sah pada baris keduanya sendiri sedang mengatakan sesuatu tentang bagaimana ia ingin dibaca: dengan kehati-hatian, bukan dengan ketergesaan.
  • Rumusan "tidak ada keraguan padanya" dipakai sembilan kali untuk hari perhitungan yang belum datang, dan di sini untuk kitab yang sudah ada di tangan. Sesuatu yang bisa dipegang dan sesuatu yang belum terjadi disebut dengan tingkat kepastian yang sama. Bagi yang menerima salah satunya, yang lain menjadi sulit ditolak; keduanya diikat oleh rumusan yang sama.
  • Kata yang diterjemahkan "bertakwa" berasal dari akar yang berarti menjaga atau melindungi diri. Ia menggambarkan sikap waspada seseorang yang tahu ada bahaya dan berusaha tidak terjerumus, bukan gelar atau keanggotaan yang sekali diperoleh lalu melekat. Sikap itu bisa naik dan turun, bisa hadir hari ini dan hilang esok, dan karena itu ia lebih tepat disebut kewaspadaan daripada kedudukan.
  • Kata "Kitab" di sini memakai bentuk yang menandai sesuatu yang sudah dikenal, bukan sesuatu yang baru diperkenalkan. Bunyinya bukan "ada sebuah kitab" melainkan "Kitab itu", seolah pembaca sudah semestinya tahu Kitab mana yang dimaksud. Cara memperkenalkan sesuatu yang mengandaikan pengenalan lebih dulu selalu menyisakan pertanyaan yang menarik bagi yang membacanya untuk pertama kali.
  • Al-Qur'an menyebut diri "Al-Qur'an ini" enam belas kali, memakai kata tunjuk dekat. Tetapi di ayat ini, satu-satunya kali dalam seluruh kitab, ia memakai kata tunjuk jauh: "itulah Kitab". Ketika sebuah teks punya kebiasaan yang jelas lalu sekali saja menyimpang darinya, penyimpangan itu jarang kebetulan. Membaca dengan teliti berarti memperhatikan bukan hanya apa yang dikatakan, tetapi juga bagaimana ia dikatakan berbeda dari kebiasaannya sendiri.