الم

Alif Laam Miim.

Terjemahan bertahap (1 jeda)
  1. المalif laam miimAlif Lam Mim
Penjelasan pilihan kata

Alif, Lam, dan Mim adalah tiga huruf yang berdiri sendiri sebagai satu ayat penuh, tanpa membentuk kata apa pun. Huruf-huruf semacam ini muncul tiga puluh kali di dua puluh sembilan surah, seperempat dari seluruh surah dalam Al-Qur'an. Dalam analisis tata bahasa yang memetakan setiap kata dalam Al-Qur'an, huruf-huruf pembuka ini adalah satu-satunya kategori yang tidak memiliki akar kata dan tidak memiliki bentuk dasar. Setiap kata lain dalam Al-Qur'an, tanpa kecuali, bisa dilacak ke akar tiga hurufnya dan dicari maknanya dalam kamus. Huruf-huruf ini tidak. Itulah sebabnya ia tidak diterjemahkan di sini, melainkan dibunyikan apa adanya: bukan karena maknanya dirahasiakan, melainkan karena secara tata bahasa ia memang bukan kata yang bisa diterjemahkan.

Beberapa hal tentang huruf-huruf ini bisa dihitung dan diverifikasi. Seluruh rangkaian huruf pembuka di Al-Qur'an memakai empat belas huruf yang berbeda, dan seluruh abjad Arab terdiri dari dua puluh delapan huruf. Jadi tepat setengah dari abjad dipakai, tidak lebih dan tidak kurang. Rangkaian yang terbentuk pun berjumlah empat belas kombinasi berbeda. Beberapa kombinasi berulang di beberapa surah: Haa Miim membuka tujuh surah berturut-turut (40 sampai 46), Alif Laam Miim membuka enam surah, dan Alif Laam Raa membuka lima surah.

Yang paling bisa diamati adalah apa yang datang sesudahnya. Dari dua puluh sembilan surah yang dibuka huruf-huruf semacam ini, dua puluh enam di antaranya menyebut Kitab, Al-Qur'an, atau wahyu dalam tiga ayat pertamanya. Di surah ini sendiri, ayat berikutnya langsung berbunyi "Itulah Kitab, tidak ada keraguan" (ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ, dzaalika l-kitaabu laa rayba, 2:2). Kata "itulah" (ذَٰلِكَ, dzaalika) adalah kata tunjuk untuk sesuatu yang jauh atau yang sudah disebut sebelumnya, bukan kata tunjuk untuk sesuatu yang baru akan disebut. Dalam bahasa Indonesia bedanya seperti "itu" dan "ini". Jadi kalimat itu menunjuk balik, bukan menunjuk ke depan, dan yang berdiri persis sebelumnya adalah tiga huruf ini.

Ada juga pola yang bisa dihitung tentang surah-surah yang dibuka huruf semacam ini: rata-rata panjangnya sembilan puluh lima ayat, sementara surah-surah lain rata-rata empat puluh satu ayat, jadi lebih dari dua kali lipat. Surah ini sendiri, yang dibuka Alif Laam Miim, adalah surah terpanjang dalam Al-Qur'an dengan dua ratus delapan puluh enam ayat.

Apa arti huruf-huruf ini tidak dijelaskan di mana pun dalam Al-Qur'an, dan tidak ada satu ayat pun yang menafsirkannya. Karena itu, tidak ada penafsiran yang diberikan di sini. Yang bisa disampaikan hanyalah apa yang bisa dihitung dan diperiksa sendiri oleh pembaca.

Tafsiran

Al-Qur'an membuka surah terpanjangnya dengan tiga huruf yang tidak membentuk kata, tidak memiliki akar, dan tidak pernah dijelaskan artinya di seluruh kitab. Bagi kitab yang berulang kali menyatakan diri sebagai kitab yang jelas dan memberi penjelasan, pembukaan semacam ini adalah sesuatu yang mencolok. Namun mencoloknya justru terletak pada susunannya: huruf-huruf yang tidak dapat dipahami ini di hampir semua tempat langsung disusul pernyataan tentang Kitab, tentang wahyu, tentang sesuatu yang jelas dan terang. Dua hal yang tampaknya berlawanan diletakkan berdampingan tanpa penjelasan penghubung.

Susunan ini menghasilkan efek yang bisa dirasakan siapa pun yang membacanya berurutan. Pembaca disodori sesuatu yang tidak bisa dipahaminya, lalu segera diberi tahu bahwa yang di hadapannya adalah Kitab tanpa keraguan. Pengakuan bahwa ada yang tidak dipahami dan penerimaan bahwa yang disampaikan itu benar, diletakkan bersebelahan pada baris pertama dan kedua. Bagi kitab yang menuntut bukti dan mengecam keyakinan tanpa dasar, menempatkan sesuatu yang tak terjelaskan tepat di ambang pintunya adalah pilihan yang layak direnungkan.

Dan bahwa tepat setengah dari abjad Arab dipakai, tidak lebih dan tidak kurang, adalah keteraturan yang bisa dihitung. Keteraturan itu tidak memberi tahu apa artinya, tetapi memberi tahu sesuatu yang lain: bahwa huruf-huruf ini bukan taburan acak. Ada susunan di dalamnya, sekalipun susunan itu belum terbuka bagi kita.

Implikasi (7)
  • Kitab yang menuntut bukti dan mencela keyakinan yang diwarisi tanpa pemeriksaan, membuka surah terpanjangnya dengan tiga huruf yang tidak dijelaskan artinya di mana pun. Sesuatu yang tidak dipahami diletakkan tepat di ambang pintu, sebelum satu kalimat pun disampaikan. Barangkali ada yang perlu diakui lebih dulu sebelum sebuah kitab bisa benar-benar dibaca: bahwa tidak semua akan terpahami, dan itu tidak membatalkan apa yang bisa dipahami.
  • Tidak ada satu ayat pun dalam Al-Qur'an yang menjelaskan arti huruf-huruf ini. Setiap penjelasan yang pernah ditawarkan sepanjang sejarah adalah dugaan yang datang dari luar teks. Di hadapan kekosongan semacam ini, ada dua pilihan: mengisinya dengan tafsiran yang terdengar meyakinkan, atau membiarkannya kosong dan mengatakan tidak tahu. Yang kedua lebih sulit, dan lebih jujur.
  • Empat belas huruf dipakai, dari abjad yang berjumlah dua puluh delapan. Tepat setengah, tidak lebih dan tidak kurang. Empat belas pula jumlah kombinasi yang terbentuk. Angka-angka ini bisa dihitung siapa saja dan hasilnya akan sama. Keteraturan yang bisa diukur namun belum bisa dijelaskan bukanlah hal yang aneh; sebagian besar penemuan dalam sejarah pengetahuan dimulai dari pola yang terlihat lebih dulu sebelum sebabnya dipahami.
  • Dari dua puluh sembilan surah yang dibuka huruf-huruf semacam ini, dua puluh enam langsung menyebut Kitab, wahyu, atau Al-Qur'an dalam tiga ayat pertamanya. Yang paling tak terpahami selalu berdampingan dengan yang paling ditegaskan kejelasannya. Susunan ini tidak menjelaskan apa-apa, tetapi memperlihatkan sesuatu: ketidakpahaman terhadap sebagian tidak pernah dijadikan alasan untuk meragukan keseluruhan.
  • Ayat berikutnya berbunyi "Itulah Kitab", memakai kata tunjuk untuk sesuatu yang sudah disebut, bukan untuk sesuatu yang baru akan datang. Yang berdiri persis sebelumnya hanyalah tiga huruf ini. Sebuah kalimat yang menunjuk ke belakang, ke arah sesuatu yang tak terpahami, lalu menyebutnya Kitab tanpa keraguan. Hubungan antara keduanya tidak dijelaskan, dan tidak dijelaskannya itu sendiri adalah bagian dari bagaimana ayat ini bekerja.
  • Ruang kosong selalu mengundang untuk diisi. Semakin sedikit yang diketahui tentang sesuatu, semakin bebas imajinasi bergerak, dan semakin mudah penjelasan yang terdengar dalam diterima tanpa diperiksa. Huruf-huruf ini adalah ujian kecil bagi setiap pembaca: sanggupkah berhenti di batas yang sesungguhnya, atau tergoda melangkah lebih jauh dari yang bisa dipertanggungjawabkan.
  • Haa Miim membuka tujuh surah berturut-turut. Alif Laam Miim membuka enam surah. Alif Laam Raa membuka lima. Surah-surah yang dibuka huruf semacam ini rata-rata dua kali lebih panjang daripada yang lain. Semua ini bisa dihitung, dan semuanya menunjukkan bahwa ada sesuatu yang tersusun. Apa yang tersusun itu belum terbaca, dan mungkin memang belum waktunya terbaca. Tetapi tersusun dan terbaca adalah dua hal yang berbeda.