مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ
Pemilik Hari Pertanggungjawaban.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِmaaliki yawmi d-diiniPemilik Hari Pertanggungjawaban
Penjelasan pilihan kata
"Pemilik" (مَالِكِ, maaliki) menutup rangkaian tiga sebutan yang menerangkan "Allah" sejak 1:2. Kalimat panjang yang terbentang tiga ayat itu baru diakhiri titik di sini. Kata ini dibedakan dari bacaan alternatif "raja" karena menunjuk bukan cuma kepada kekuasaan memerintah, melainkan kepada kepemilikan yang penuh atas apa yang disebut sesudahnya: Dialah yang memiliki hari itu sendiri. "Hari Pertanggungjawaban" (يَوْمِ الدِّينِ, yawmi d-diini) menerjemahkan kata "diin" sebagai "pertanggungjawaban", konsisten di seluruh terjemahan ini, bukan kata "agama" yang lazim di banyak terjemahan lain. Alasan perbedaan ini bukan sekadar pilihan kata sembarangan, melainkan bertumpu pada bukti dari beberapa jalur yang saling menguatkan.
Pertama, para penyusun kamus bahasa Arab klasik sendiri mencatat bahwa kata "diin" di ayat ini berarti perhitungan dan pembalasan, bukan ketaatan atau lembaga keagamaan. Kamus besar klasik secara eksplisit mendaftarkan makna "pembalasan, perhitungan, dan ganjaran" (requital, recompense, reckoning) untuk kata "diin", dan justru mengutip ayat ini, "Maaliki yawmi d-diin", sebagai bukti pemakaiannya. Jadi menerjemahkan "diin" di sini sebagai "pertanggungjawaban" bukan penyimpangan dari makna klasik, melainkan justru mengikuti salah satu makna yang dicatat oleh para ahli bahasa Arab sendiri.
Kedua, hubungan antara "diin" dan tanggung jawab terhadap sesama manusia ditegaskan dengan sangat jelas di tempat lain. Surah Al-Ma'un (107) dibuka dengan pertanyaan tajam: "Tahukah engkau yang mendustakan pertanggungjawaban?" (أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ, a-ra'ayta lladzii yukadzdzibu bi-d-diini, 107:1). Pertanyaan itu langsung dijawab sendiri oleh ayat berikutnya: "Maka itulah orang yang menghardik anak yatim" (فَذَٰلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ, fa-dzaalika lladzii yadu'u l-yatiima, 107:2), "dan tidak mendorong memberi makan orang miskin" (وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ الْمِسْكِينِ, wa-laa yahuddu alaa ta'aami l-miskiini, 107:3). Ayat itu tidak menggambarkan pendustaan sebagai sekadar kesalahan keyakinan yang abstrak. Ia langsung mendefinisikannya dalam wujud perilaku konkret terhadap orang yang paling lemah. Urutannya penting: bukan "ia berbuat jahat karena ia pendusta," melainkan "itulah orang yang mendustakan". Perbuatannya itulah definisi dari pendustaannya. Kalau "diin" diterjemahkan sebagai "agama" di ayat itu, pembaca akan bertanya apa hubungan antara mendustakan agama dan menghardik anak yatim; hubungan itu menjadi gelap dan penuh teka-teki. Tetapi kalau "diin" adalah pertanggungjawaban, hubungannya langsung terang: orang yang mengingkari bahwa ia akan dimintai pertanggungjawaban, merasa bebas melakukan apa pun terhadap yang lemah tanpa akibat.
Pola yang sama muncul di surah lain. Di awal surah Al-Mutaffifin (83), kecurangan dalam menakar dan menimbang, bentuk penipuan yang paling sehari-hari dan paling menguntungkan pelakunya, dikutip lebih dulu. Lalu kecaman itu memuncak pada gambaran tentang "orang-orang yang mendustakan Hari Pertanggungjawaban" (الَّذِينَ يُكَذِّبُونَ بِيَوْمِ الدِّينِ, alladziina yukadzdzibuuna bi-yawmi d-diini, 83:11). Sekali lagi urutannya sama: kecurangan dalam urusan paling remeh, dilakukan di bawah radar penglihatan manusia, adalah buah paling nyata dari keyakinan bahwa tidak akan ada hari ketika semua itu dihisab. Surah Al-Infitar (82) bahkan lebih gamblang lagi. Ia membuka dengan pertanyaan, "Apakah yang telah memperdayakanmu terhadap Tuhanmu Sang Mulia?", lalu pertanyaan itu dijawab sendiri oleh ayat berikutnya: "Sekali-kali tidak! Bahkan, kalian mendustakan pertanggungjawaban" (بَلْ تُكَذِّبُونَ بِالدِّينِ, bal tukadzdzibuuna bi-d-diini, 82:9), yang langsung disusul oleh peringatan tentang malaikat pencatat, pengadilan akhir, dan hari ketika "tak seorang pun berkuasa apa-apa bagi orang lain; dan urusan pada hari itu milik Allah" (82:19). Ketiga surah ini, Al-Ma'un, Al-Mutaffifin, dan Al-Infitar, masing-masing membentangkan hubungan yang sama: pengabaian terhadap yang lemah, kecurangan dalam muamalah, dan kelengahan moral, semuanya bersumber dari satu akar yang sama, yaitu mengingkari adanya sistem pertanggungjawaban yang akan menagih semuanya pada waktunya.
Ketiga, kata "diin" di Al-Qur'an sendiri dipakai secara netral. Ia bisa mengarah kepada Allah maupun kepada selain-Nya. Firaun punya "diin" (40:26), orang yang mempermainkan hidup juga punya "diin" (6:70, 7:51), dan surah Al-Kafirun ditutup dengan "bagi kalian diin kalian, bagiku diin-ku" (109:6). Kata ini bukan nama satu sistem tertentu, melainkan nama untuk sistem nilai yang dijalani setiap orang, apa pun isinya. Menerjemahkannya sebagai "agama" dalam arti institusi keagamaan akan menyulitkan di ayat-ayat ini; menerjemahkannya sebagai "pertanggungjawaban", sistem hidup yang kelak dihisab, justru membuat ayat-ayat itu terang.
Keempat, frasa "yawm ad-diin" muncul tiga belas kali di seluruh Al-Qur'an, dan di antaranya, "ad-diin" tanpa "yawm" muncul di 51:6 sebagai sesuatu yang "pasti terjadi" (لَوَاقِعٌ, la-waaqi'un), disejajarkan dengan kepastian "apa yang dijanjikan kepada kalian" di ayat sebelumnya. Penegasan bahwa "pertanggungjawaban pasti terjadi" muncul di tengah rangkaian sumpah kosmis yang agung (51:1-5), memberikan bobot yang sama kepadanya seperti kepastian hukum-hukum alam semesta itu sendiri.
Tafsiran
Rangkaian tiga sebutan sejak 1:2 sampai ayat ini bergerak mengikuti sebuah urutan yang bukan sekadar daftar: dari "Tuhan seisi alam" (cakupan kekuasaan atas segalanya), ke "Ar-Rahman, Sang Pengasih" (sifat yang mewarnai kekuasaan itu), sampai "Pemilik Hari Pertanggungjawaban" (saat ketika seluruh kekuasaan dan kasih sayang itu bertemu dalam perhitungan yang menentukan nasib setiap pribadi). Di ayat terakhir inilah rangkaian itu menemukan titik paling personalnya: dari "seisi alam" yang mencakup semesta, menyempit menjadi "hari", satu titik waktu, yang di dalamnya masing-masing orang akan berdiri sendiri. Ayat 82:19 merumuskan mengapa hari itu demikian menentukan: pada hari itu, tak seorang pun bisa berbuat apa-apa untuk orang lain, dan seluruh urusan menjadi milik Allah sepenuhnya. Hari itulah yang disebut "Hari Pertanggungjawaban."
Kata "diin" yang diterjemahkan "pertanggungjawaban" di sini bukan sekadar "hari pembalasan" sebagai label kosong. Seperti yang ditunjukkan oleh ayat-ayat yang sudah disebutkan, dari anak yatim yang dihardik karena orang mengingkari pertanggungjawaban (107:2), sampai takaran yang dicurangi oleh orang yang sama-sama mendustakan hari itu (83:1-11), "mendustakan diin" bukanlah pernyataan abstrak tentang teologi. Ia adalah fondasi yang, begitu diingkari, konsekuensinya langsung tampak dalam cara setiap orang memperlakukan orang lain yang lebih lemah darinya. Dengan demikian, menempatkan "Pemilik Hari Pertanggungjawaban" sebagai sebutan penutup dari rangkaian ini bukan ancaman yang berdiri sendiri, melainkan penutup dari sebuah busur: dari kekuasaan, ke kasih sayang, ke perhitungan. Tiga titik yang bersama-sama membentuk gambaran utuh tentang siapa yang sedang disapa di seluruh surah ini.
Implikasi (6)
- Di surah Al-Ma'un, pertanyaan "tahukah engkau yang mendustakan pertanggungjawaban?" tidak menunggu jawaban teologis. Jawabannya langsung berupa gambaran: itulah orang yang menghardik anak yatim dan enggan memberi makan orang miskin. Keyakinan tentang pertanggungjawaban, atau pengingkarannya, ternyata tidak tinggal di dalam kepala. Ia menjelma menjadi cara seorang manusia memperlakukan orang yang tidak bisa membalas atau menguntungkannya.
- Kecurangan paling remeh, mengurangi takaran saat menjual dan meminta dilebihkan saat membeli, ternyata dalam Al-Qur'an didudukkan sejajar dengan mendustakan hari perhitungan. Bukan karena keduanya sama beratnya, melainkan karena yang kedua adalah akar dari yang pertama: kalau tidak ada yang akan menghisab, kenapa harus jujur saat tidak ada yang melihat? Kecurangan kecil-kecilan yang dianggap wajar dalam bisnis dan birokrasi, dalam cara pandang ini, bukan sekadar pelanggaran aturan. Ia adalah pernyataan diam-diam bahwa pertanggungjawaban itu tidak nyata.
- Rangkaian tiga sebutan yang menutup di ayat ini, kekuasaan, kasih sayang, dan perhitungan, membentuk sebuah busur yang setiap titiknya diperlukan agar yang lain tidak disalahpahami. Kekuasaan tanpa kasih sayang menjadi tirani; kasih sayang tanpa perhitungan menjadi pembiaran; perhitungan tanpa dua yang pertama menjadi kengerian belaka. Menempatkan ketiganya dalam satu kalimat yang sama, satu tarikan napas, adalah pernyataan bahwa semuanya benar bersama-sama dan tidak boleh dipisahkan.
- Penutup surah Al-Infitar menggambarkan hari itu dalam satu baris yang merangkum semuanya: hari ketika tak seorang pun bisa berbuat apa-apa untuk orang lain. Jabatan, koneksi, kekayaan, nama besar, semua yang bisa diandalkan untuk menutupi atau meringankan kesalahan di dunia, tidak berfungsi pada hari itu. Inilah makna "Pemilik Hari Pertanggungjawaban": pada hari itu, kepemilikan berpindah sepenuhnya dari tangan siapa pun kepada-Nya.
- Ada gerakan menyempit yang disengaja dalam tiga ayat terakhir rangkaian ini: dari "seisi alam" yang maha luas, ke "Ar-Rahman, Sang Pengasih" yang menyentuh hati, ke "Hari Pertanggungjawaban" yang menunjuk satu titik waktu tertentu. Gerakan ini terasa seperti bingkai yang perlahan mengecil sampai akhirnya hanya menyisakan satu pembaca, berhadapan dengan hari ketika semua urusan dikembalikan kepada-Nya.
- Kata "diin" di Al-Qur'an bukan milik satu pihak saja. Firaun punya "diin", para pengejek pun punya "diin", dan Nabi diperintahkan berkata "bagiku diin-ku, bagimu diin-mu". Yang membedakan satu "diin" dari yang lain bukan kata itu sendiri, melainkan arahnya: kepada siapa sistem itu menghadap. Menerjemahkannya sebagai "pertanggungjawaban", bukan "agama" sebagai institusi, menjaga agar pembaca tidak menyangka bahwa "diin" adalah nama satu lembaga tertentu yang dianut sebagian orang dan ditolak sebagian lain. Ia adalah kenyataan yang mencakup semua, disadari atau tidak.