الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Segala puji bagi Allah, Tuhan seisi alam,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَal-hamdu lillaahi rabbi l-aalamiinasegala puji bagi Allah, Tuhan seisi alam
Penjelasan pilihan kata
"Segala puji" (الْحَمْدُ, al-hamdu) berbentuk kata benda, bukan kata kerja, memakai kata sandang "ال" yang menandakan pujian menyeluruh. Kata ini secara klasik dibedakan dari kata untuk "syukur": syukur hanya sah diucapkan atas kebaikan yang benar-benar diterima, sedangkan pujian jenis ini bisa disampaikan atas sifat yang layak dipuji terlepas dari ada tidaknya kebaikan yang diterima langsung, kalimat pembuka ini bahkan dikenal secara khusus sebagai ucapan orang yang sedang tertimpa kesulitan, saat tidak ada kebaikan duniawi baru yang sedang diterima. "Tuhan seisi alam" (رَبِّ الْعَالَمِينَ, rabbi l-aalamiina) adalah sebutan pertama dari rangkaian tiga sebutan yang menerangkan "Allah" secara berturutan sampai 1:4; karena satu kalimat ini terbentang lintas tiga ayat, terjemahan diakhiri koma di sini dan di 1:3, baru ditutup titik setelah sebutan ketiga selesai di 1:4.
Kalimat pembuka ini bukan satu-satunya kemunculannya. Kata yang sama persis muncul lagi di 6:45, "dan segala puji bagi Allah, Tuhan seisi alam" (وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ, wa-l-hamdu lillaahi rabbi l-aalamiina), tepat setelah menggambarkan habisnya suatu kaum yang zalim, dan di 37:182 dengan kata yang sama persis, menutup rangkaian panjang kisah para nabi yang diselamatkan dari kaum mereka masing-masing. Ayat 45:36 memakai bentuk yang diperluas, "maka bagi Allah segala puji, Tuhan langit dan Tuhan bumi, Tuhan seisi alam" (فَلِلَّهِ الْحَمْدُ رَبِّ السَّمَاوَاتِ وَرَبِّ الْأَرْضِ رَبِّ الْعَالَمِينَ, fa-lillaahi l-hamdu rabbi s-samaawaati wa-rabbi l-ardi rabbi l-aalamiina), menempatkan "Tuhan seisi alam" sebagai sebutan puncak setelah dua sebutan yang lebih sempit disebut lebih dulu.
Sebutan yang sama juga muncul dalam mulut penentang. Firaun, ketika diberitahu bahwa ia diutus rasul dari "Tuhan seisi alam", balik bertanya dengan nada meremehkan, "Apa itu Tuhan seisi alam?" (وَمَا رَبُّ الْعَالَمِينَ, wa-maa rabbu l-aalamiina, 26:23), sebutan yang sama persis dengan yang membuka Al-Qur'an sebagai pengakuan penuh, di sini dilontarkan sebagai penolakan untuk mengakui.
Cakupan kata "seisi alam" (الْعَالَمِينَ, l-aalamiina) sendiri punya lebih dari satu pemahaman secara klasik: sebagian memahaminya secara khusus mencakup jin dan manusia, bersandar pada ayat lain yang menyebut peringatan diberikan "bagi seisi alam" (لِلْعَالَمِينَ, li-l-aalamiina, 25:1) padahal peringatan itu jelas tidak ditujukan kepada binatang atau benda mati, hanya kepada makhluk yang bisa diseru dan diminta pertanggungjawaban; sebagian pemahaman lain mencakup seluruh makhluk tanpa kecuali.
Tafsiran
Ayat ini menyatakan pujian bukan sebagai tindakan yang menunggu kebaikan diterima lebih dulu, melainkan sebagai kenyataan yang berlaku dengan sendirinya, bahkan dikenal sebagai kalimat yang justru diucapkan orang yang sedang kesulitan. Dasarnya pun bukan jasa yang dirasakan satu pihak saja, melainkan kedudukan yang mencakup seisi alam. Kata-kata pembuka ini ternyata bukan sekali pakai: ia dipinjam kembali di tempat lain persis pada momen-momen penyelesaian, entah setelah kejahatan sebuah kaum berakhir atau setelah rangkaian panjang kisah para nabi sampai pada penutupnya, seolah kalimat yang membuka kitab ini sekaligus membawa kosakata penutupan. Sebutan yang sama, "Tuhan seisi alam", bisa jatuh dalam dua sikap yang berlawanan sama sekali: di sini sebagai pengakuan penuh, di mulut Firaun sebagai pertanyaan yang menolak mengakui. Kata-katanya sama; yang berbeda adalah sikap yang membawanya. Cakupan "seisi alam" sendiri, kalau bacaan yang mengaitkannya dengan makhluk yang bisa diseru dan dimintai pertanggungjawaban itu benar, berarti ayat pembuka ini sejak awal sudah menyertakan setiap pembaca bukan sekadar sebagai bagian dari yang ada, melainkan sebagai pihak yang kelak diminta menjawab.
Implikasi (6)
- Pujian di ayat ini bukan tindakan yang baru dimulai oleh siapa pun yang mengucapkannya, melainkan kenyataan yang dinyatakan sudah berlaku dengan sendirinya. Kalimat ini bahkan dikenal secara khusus sebagai ucapan orang yang sedang tertimpa kesulitan, bukan hanya ucapan orang yang baru menerima kebaikan. Ada sesuatu yang menggugah dalam kenyataan itu: pengakuan semacam ini ternyata tidak menunggu keadaan menjadi baik lebih dulu untuk layak diucapkan.
- Dasar pujian ini bukan jasa tertentu yang dirasakan satu kelompok saja, melainkan kedudukan yang mencakup seisi alam. Ada beda besar antara penghargaan yang lahir karena menerima sesuatu secara pribadi, dan pengakuan atas sesuatu yang benar terlepas dari untung atau rugi yang dirasakan.
- Kata-kata yang membuka seluruh Al-Qur'an ini ternyata bukan sekali pakai. Kata yang sama muncul lagi di tempat lain, tepat pada saat sesuatu yang sulit akhirnya usai, atau ketika sebuah rangkaian kisah panjang akhirnya sampai pada penutupnya. Sebuah pembukaan yang meminjam kata-kata dari momen penutupan menyimpan sesuatu yang layak direnungkan tentang ke arah mana keseluruhan bacaan ini sebenarnya menuju.
- Sebutan yang sama persis, kata demi kata, muncul lagi jauh di ayat lain, kali ini diucapkan sebagai pertanyaan meremehkan oleh seorang penguasa yang menolak mengakuinya. Kata yang sama bisa menjadi pengakuan penuh atau penolakan penuh; yang membedakan keduanya bukan kata-katanya, melainkan sikap orang yang mengucapkannya.
- Cakupan sebutan "seisi alam" di sini, menurut sebagian pemahaman klasik, bukan sekadar segala sesuatu yang ada secara fisik, melainkan secara khusus makhluk yang bisa diseru dan dimintai pertanggungjawaban. Kalau bacaan ini benar, maka yang tercakup di dalamnya bukan soal eksistensi semata, melainkan soal kesanggupan untuk menjawab, sebuah kategori yang menyertakan siapa pun yang sedang membaca kalimat ini sekarang.
- Kalimat yang menggambarkan siapa yang dipuji ini tidak selesai dalam satu napas; ia terbentang sampai tiga ayat sebelum benar-benar tuntas. Ada sesuatu yang layak diperhatikan dalam cara ini: memahami sesuatu yang penting kadang memang tidak bisa dipadatkan menjadi satu baris saja.