بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Dengan nama Allah, Ar-Rahman, Sang Pengasih.

Terjemahan bertahap (1 jeda)
  1. بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِbismi llaahi r-rahmaani r-rahiimidengan nama Allah, Ar-Rahman, Sang Pengasih
Penjelasan pilihan kata

"Bismillah" (بِسْمِ اللَّهِ, bismi llaahi) membuka surah ini. "Ar-Rahman" (الرَّحْمَٰنِ, r-rahmaani) dipertahankan sebagai nama, bukan diterjemahkan, karena ada ayat yang secara eksplisit menyandingkannya dengan "Allah" sebagai dua nama yang setara: "serulah Allah atau serulah Ar-Rahman" (ادْعُوا اللَّهَ أَوِ ادْعُوا الرَّحْمَٰنَ, d'uu llaaha awi d'uu r-rahmaana), "nama mana saja yang kalian seru, maka milik-Nya nama-nama yang terindah" (فَلَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ, fa-lahu l-asmaa'u l-husnaa), demikian bunyi 17:110. Bukti yang lebih tajam ada di 25:59: frasa "yang menciptakan langit dan bumi, kemudian bersemayam di atas Arasy" (الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ, alladzii khalaqa s-samaawaati wa-l-arda wa-maa baynahumaa fii sittati ayyaamin) adalah kalimat yang sama persis dengan yang di ayat lain (7:54, 10:3, 32:4) bersubjek "Allah", tetapi di sini langsung diikuti "Ar-Rahman" (الرَّحْمَٰنُ, ar-rahmaanu) sebagai penjelasnya, menyamakan keduanya dalam satu kalimat. Pola ini berulang: "Ar-Rahman" berkali-kali menjadi subjek kalimat yang melakukan tindakan sendiri, seperti mengajarkan Al-Qur'an dan menciptakan manusia (55:1-3) atau bersemayam di atas Arasy (20:5), sebuah peran gramatikal yang mustahil dimainkan kata sifat semata. "Ar-rahiim" (الرَّحِيمِ, r-rahiimi) sebaliknya tidak pernah menjadi subjek kalimat sendiri di ayat mana pun; ia selalu menerangkan subjek yang sudah ada, dan di ayat lain (9:128) juga dipakai menggambarkan sifat seorang rasul, karena itu diterjemahkan "Sang Pengasih", bukan dipertahankan sebagai nama.

Tafsiran

Ayat pembuka ini menyandingkan dua kata yang berasal dari akar yang sama, namun berbeda status: satu adalah nama yang bisa menggantikan "Allah" sepenuhnya sebagai pelaku kalimat, satu adalah sebutan sifat yang selalu menerangkan pelaku lain, seperti dijelaskan di atas. Susunan "Ar-Rahman, Sang Pengasih" karena itu bukan dua sebutan yang setara kedudukannya, melainkan nama diikuti sebutan sifat yang menjelaskannya, seperti seseorang disebut dengan namanya lalu segera diterangkan sifatnya. Ayat-ayat berikutnya akan segera membahas hal yang lebih berat, yaitu hari pertanggungjawaban di 1:4 dan kemungkinan tersesat atau dimurkai di ayat penutup surah ini; menempatkan nama dan sifat kasih sayang di baris paling awal membingkai seluruh pembahasan berikutnya, termasuk bagian yang paling mengingatkan sekalipun, sebagai bagian dari rahmat yang disebut lebih dulu.

Implikasi (5)
  • Kedua kata dalam ayat ini berasal dari akar yang sama, tapi statusnya berbeda jauh: satu bisa berdiri sendiri sebagai pelaku, satu selalu bergantung pada pelaku lain untuk diterangkan. Ada sesuatu yang layak direnungkan dalam perbedaan itu, tentang apa yang menjadi bagian dari identitas diri sendiri sejak semula, dan apa yang sekadar sifat yang menempel dari luar.
  • Sebelum kalimat lain diucapkan, sebelum satu perintah pun disampaikan, yang pertama muncul adalah sebuah nama yang berarti pengasih. Apa pun yang datang setelahnya, betapa pun berat, akan selalu berdiri di atas fondasi yang telah diletakkan lebih dulu ini.
  • Ayat-ayat berikutnya dalam surah ini akan segera membahas hal yang jauh lebih berat: hari pertanggungjawaban, jalan yang bisa ditempuh salah, murka yang mungkin diturunkan. Meletakkan nama kasih sayang tepat sebelum semua itu bukan kebetulan urutan; ia terasa seperti cara memperkenalkan sesuatu yang berat lewat pintu yang lembut lebih dulu.
  • Baris ini begitu akrab, diucapkan berulang kali hingga mudah terlewat tanpa benar-benar didengar. Namun di baliknya ada argumen yang tersusun dari perbandingan sangat cermat lintas ayat, sesuatu yang jauh lebih padat daripada yang biasa disadari siapa pun yang mengucapkannya sambil lalu.
  • Cara sesuatu diperkenalkan pertama kali sering menentukan bagaimana semua yang menyusul akan dipahami. Ayat ini memperkenalkan bukan lewat perintah atau ancaman, melainkan lewat nama yang berarti kasih; pilihan itu sendiri, tentang apa yang layak disebut lebih dulu, adalah sebuah pesan yang berdiri sendiri.